Padatnya aktivitas kuliah, pekerjaan, dan organisasi menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, dukungan organisasi kemahasiswaan diperlukan agar aspirasi dan kebutuhan mahasiswa tetap terwadahi.
Kategori: Kemahasiswaan | Rubrik: Suara Akademisi
Tantangan Menjalani Perkuliahan Sambil Bekerja
Menjalani perkuliahan sambil bekerja bukanlah perkara mudah. Mahasiswa dituntut mampu membagi waktu, menjaga kedisiplinan, serta mempertahankan konsistensi belajar di tengah berbagai tanggung jawab yang harus dijalankan. Kondisi ini menjadi realitas bagi sebagian besar mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Madina Sragen yang harus menyeimbangkan pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas organisasi.
Anggota Bidang Agama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIT Madina Sragen, Muhammad Fauzan Romadloni, mengungkapkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki pekerjaan dengan latar belakang yang beragam, mulai dari tenaga pendidik, pelaku usaha, hingga pekerja paruh waktu.
Menurutnya, keterbatasan waktu menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi mahasiswa, terutama mereka yang juga terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
“Persoalan yang dihadapi mayoritas mahasiswa STIT Madina Sragen adalah waktu. Selain bekerja, mereka juga berkuliah sehingga harus membagi waktu. Apalagi sebagai anggota pengurus BEM, ada pembagian waktu lainnya lagi,” ungkapnya dalam wawancara untuk rubrik Suara Akademisi, Minggu (1/11/2026).
Selain persoalan manajemen waktu, kedisiplinan dan efektivitas pembelajaran juga menjadi perhatian. Berdasarkan pengamatan dan pandangan BEM, tanggung jawab akademik sebagian mahasiswa dinilai masih perlu ditingkatkan. Hal tersebut tercermin dari seringnya keterlambatan pengumpulan tugas serta kehadiran dalam perkuliahan.
Menurut Fauzan, terdapat beberapa aspek dalam pelaksanaan perkuliahan yang masih dapat ditingkatkan. Hal tersebut meliputi penguatan komunikasi dan koordinasi, khususnya dalam penyampaian informasi apabila terdapat perubahan jadwal maupun penyesuaian aktivitas pembelajaran. Selain itu, pengelolaan tugas menjelang ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS) juga perlu mendapat perhatian agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih terencana dan proporsional.
Layanan administrasi akademik, khususnya dalam proses pengisian Kartu Rencana Studi (KRS), juga menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatiannya. Fauzan berpandangan bahwa kemudahan akses konsultasi dan pendampingan akademik perlu terus ditingkatkan agar mahasiswa dapat memperoleh layanan yang lebih fleksibel dan menyelesaikan administrasi perkuliahan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Fauzan berharap berbagai aspirasi tersebut dapat menjadi masukan positif bagi peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan di STIT Madina Sragen. Menurutnya, komunikasi yang terbuka, koordinasi yang baik, serta penguatan layanan akademik secara berkelanjutan merupakan hal penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang semakin efektif dan mampu mengakomodasi kebutuhan mahasiswa.

Manajemen Waktu dan Konsistensi Belajar
Di tengah tuntutan pekerjaan dan perkuliahan, kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu kunci keberhasilan mahasiswa. Menentukan skala prioritas, menyusun agenda mingguan, memperhatikan tenggat pengumpulan tugas, serta menyelesaikan pekerjaan akademik lebih awal merupakan beberapa langkah yang dapat diterapkan.
Namun, perencanaan saja tidak cukup tanpa diikuti konsistensi. Mahasiswa perlu memahami kembali tujuan awal menempuh pendidikan agar tetap memiliki motivasi ketika menghadapi tekanan pekerjaan maupun berbagai kesulitan selama perkuliahan.
Bagi mahasiswa yang aktif dalam organisasi, koordinasi dan pembagian tugas juga menjadi aspek penting. Penyusunan agenda kegiatan organisasi perlu mempertimbangkan ketersediaan waktu setiap anggota. Dengan demikian, tanggung jawab organisasi dapat tetap terlaksana tanpa mengesampingkan pekerjaan maupun kewajiban akademik.
BEM dan Penguatan Ruang Aspirasi Mahasiswa
Selain kemampuan individu dalam mengelola tanggung jawab, organisasi kemahasiswaan memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan akademik yang partisipatif. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), misalnya, dapat menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa dan pihak kampus, khususnya dalam menyampaikan aspirasi, kebutuhan, serta berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa.
Meski demikian, Fauzan mengakui bahwa peran BEM dalam membantu mahasiswa menghadapi persoalan akademik maupun nonakademik masih belum berjalan secara optimal.
Ke depan, BEM diharapkan mampu memperkuat fungsi representasinya melalui berbagai upaya, seperti menyediakan pusat informasi dan pendampingan layanan akademik, mengoptimalkan kotak aspirasi, serta menyelenggarakan forum mimbar terbuka. Berbagai sarana tersebut dapat menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik, saran, maupun keluhan secara terbuka dan konstruktif.
Namun, fungsi organisasi tidak berhenti pada penerimaan aspirasi. BEM juga perlu membangun mekanisme tindak lanjut yang jelas, termasuk menyampaikan perkembangan komunikasi dan upaya penyelesaian persoalan kepada mahasiswa. Dengan demikian, kepercayaan mahasiswa terhadap organisasi dapat tumbuh dan fungsi representasi BEM dapat dijalankan secara lebih bertanggung jawab.
Komunikasi sebagai Fondasi Kehidupan Akademik
Lingkungan akademik yang kondusif tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Diperlukan keterlibatan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta organisasi kemahasiswaan untuk menciptakan suasana pendidikan yang terbuka, responsif, dan saling mendukung. Komunikasi menjadi fondasi penting dalam mengenali persoalan sekaligus menemukan solusi yang dapat diterima bersama.
Bagi mahasiswa yang menjalani peran ganda sebagai pekerja dan pelajar, keberanian menyampaikan kendala kepada pihak terkait juga menjadi hal penting. Komunikasi yang baik memungkinkan persoalan akademik dibicarakan dan dicarikan jalan keluar sebelum berkembang menjadi hambatan yang lebih besar.
“Bekerja sambil kuliah memang berat. Namun, jika terjalin komunikasi yang baik dengan seluruh aspek yang bersangkutan, kuliah tidak akan terasa seberat itu. Malah, itu menjadikan diri kita memiliki wawasan baru dan sikap yang tangguh,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tetap memperhatikan kesehatan, menyediakan waktu istirahat yang cukup, serta tidak ragu mengomunikasikan kesulitan yang dihadapi. Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan mahasiswa dalam membagi waktu dan mempertahankan motivasi. Dukungan lingkungan akademik, kualitas pelayanan pendidikan, serta keberfungsian organisasi kemahasiswaan turut menentukan terciptanya kehidupan kampus yang sehat dan partisipatif.
Di tengah kesibukan mahasiswa yang harus menjalankan berbagai peran sekaligus, kampus dan organisasi kemahasiswaan perlu hadir bukan sekadar sebagai pelengkap aktivitas pendidikan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang saling menguatkan. Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya menuntut mahasiswa untuk bertahan menghadapi berbagai tantangan, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang.
