Setelah bertahun-tahun menunda pendidikan karena tanggung jawab hidup, Sugimin akhirnya kembali ke bangku kuliah melalui Program Studi PGMI STIT Madina Sragen pada 2023.
Kategori: Mahasiswa | Rubrik: Cerita Madina
Nasihat yang Tak Pernah Dilupakan
Keinginan untuk melanjutkan pendidikan sempat tertunda karena Sugimin merasa usianya sudah terlalu tua untuk kembali menjadi mahasiswa. Padahal, cita-cita menjadi guru telah tumbuh sejak ia masih kecil. Tanggung jawab keluarga dan kebutuhan hidup membuatnya memilih bekerja terlebih dahulu setelah menyelesaikan pendidikan sebelumnya.
Kesempatan untuk melanjutkan sekolah sebenarnya pernah hadir ketika Sugimin merantau ke Kalimantan sekitar 2010-an. Di sana, ia bertemu dengan seorang guru bernama Agustosa. Sang guru menyarankan agar Sugimin tidak terlalu jauh memikirkan pekerjaan atau kedudukan yang akan diperoleh setelah lulus. Baginya, hal terpenting saat itu adalah kembali menempuh pendidikan.
“Sekolah aja dulu, kamu lanjutkan sekolah. Besok jadi apa itu urusan besok. Mau kerja apa itu urusan besok. Yang penting sekolah dulu,” demikian nasihat Pak Agustosa yang terus diingat Sugimin.
Namun, pada saat itu Sugimin belum mantap mengambil kesempatan tersebut. Ia masih merasa terlambat untuk kuliah, sehingga memilih melanjutkan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Meski demikian, pesan sang guru tetap melekat dalam ingatannya.
Seiring waktu, nasihat itu perlahan mengubah cara pandangnya. Ia mulai memahami bahwa seseorang tidak harus mengetahui seluruh kemungkinan masa depan sebelum memutuskan untuk belajar. Pendidikan, baginya, merupakan proses untuk menambah pengetahuan sekaligus mengembangkan kemampuan diri.

Kembali Mendekat pada Dunia Pendidikan
Pada tahun 2022, Sugimin mulai terlibat dalam kegiatan mengajar di lingkungan madrasah. Pengalaman tersebut kembali mendekatkannya pada cita-cita di bidang pendidikan. Ia menyadari bahwa pengalaman mengajar merupakan bekal berharga, tetapi masih banyak pengetahuan yang dapat dipelajari melalui pendidikan tinggi.
Keinginannya untuk melanjutkan studi kemudian membawanya mengenal STIT Madina Sragen melalui teman-teman di lingkungannya. Ia memperoleh informasi bahwa beberapa orang yang dikenalnya pernah menempuh pendidikan di kampus tersebut. Informasi itu membuatnya mempertimbangkan STIT Madina sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan.
Keputusan yang sempat tertunda selama bertahun-tahun akhirnya terwujud pada 2023. Sugimin resmi memulai perkuliahan di Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STIT Madina Sragen. Ia kembali menyandang status mahasiswa dengan membawa pengalaman hidup, pekerjaan, serta cita-cita yang ingin diwujudkan.
Belajar Kembali dan Beradaptasi dengan Teknologi
Kembali ke bangku kuliah setelah sekian lama tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satu hal yang perlu dihadapi Sugimin adalah penggunaan teknologi untuk menunjang kegiatan akademik. Ia melihat mahasiswa yang lebih muda umumnya telah terbiasa menggunakan perangkat digital dalam menyelesaikan tugas perkuliahan.
Sebaliknya, Sugimin perlu mempelajari sejumlah keterampilan secara bertahap. Mengoperasikan laptop, menyusun makalah, mengatur penomoran halaman, hingga membuat daftar isi menjadi bagian dari proses adaptasi yang harus dijalaninya.
Semua itu membutuhkan waktu dan latihan. Namun, kesulitan tersebut tidak membuatnya berhenti mencoba. Ia terus belajar agar mampu menyelesaikan tugas dan menyusun dokumen akademik dengan lebih baik.
Pengalaman itu mengajarkannya bahwa kuliah bukan semata-mata tentang menyelesaikan tugas atau memperoleh nilai. Perkuliahan juga menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan dan menguasai keterampilan baru. Kemauan untuk bertanya, berlatih, dan mencoba menjadi bagian penting dari proses belajarnya.
Memadukan Ilmu Perkuliahan dan Pengalaman Mengajar
Pengalaman mengajar menjadi bekal bagi Sugimin dalam mengikuti perkuliahan. Pada saat yang sama, pembelajaran di perguruan tinggi memberinya kesempatan untuk memperluas wawasan di bidang pendidikan. Ia merasakan manfaat proses akademik, antara lain ketika menyusun makalah dan memahami materi perkuliahan.
Di luar kegiatan kuliah, Sugimin juga mendirikan Rumah Quran dan menjalankan kegiatan pembelajaran Al-Qur’an. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari keterlibatannya dalam dunia pendidikan.
Pengalaman mengajar dan pembelajaran di perguruan tinggi pun berjalan beriringan. Pengetahuan yang diperoleh selama kuliah memperkaya pemahamannya, sedangkan pengalaman di lapangan membantunya melihat persoalan pendidikan secara lebih dekat.

Pendidikan sebagai Proses untuk Terus Bertumbuh
Bagi Sugimin, pendidikan tidak semestinya hanya dimaknai sebagai jalan untuk memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, proses belajar membuka kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan.
Ia memahami bahwa pekerjaan seseorang tidak selalu sejalan dengan bidang pendidikan yang ditempuh. Karena itu, manfaat pendidikan tidak hanya dapat diukur dari kesesuaian antara program studi dan pekerjaan. Kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi juga menjadi bekal penting ketika seseorang menghadapi perubahan.
Perjalanan Sugimin menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalan yang berbeda dalam menempuh pendidikan. Ada yang dapat melanjutkan kuliah segera setelah menyelesaikan sekolah, sementara sebagian lainnya perlu bekerja atau menuntaskan tanggung jawab keluarga terlebih dahulu.
Saat ini, Sugimin masih menjalani perkuliahan di Program Studi PGMI STIT Madina Sragen. Cita-cita menjadi guru yang sempat tertunda kini kembali ia perjuangkan. Nasihat Pak Agustosa tetap menjadi pengingat dalam perjalanannya: sekolah terlebih dahulu, sementara masa depan diusahakan melalui setiap langkah yang dijalani.
Kisah Sugimin menunjukkan bahwa waktu yang telah berlalu bukan alasan untuk berhenti belajar. Selama masih ada kemauan dan kesempatan yang dapat diupayakan, pintu untuk melanjutkan pendidikan tetap terbuka.
